Rabu, 24 Agustus 2011

Efek Negatif Burung Parkit


Burung parkit leher cincin yang populasinya semakin bertambah, khususnya di ruang terbuka di Inggris menimbulkan perdebatan. Sebagian berpendapat bahwa burung itu sangat eksotis dan menghadirkan warna baru. Namun bagi sebagian lain, burung itu sangat berisik.

Saat ini, diperkirakan ada sekitar 31 ribu burung parkit liar yang tersebar di taman-taman di Inggris dan kawasan tenggara negeri itu. Dan dari ‘sensus’ parkit terakhir, diketahui bahwa jumlah populasi mereka meningkat rata-rata sebesar 23 persen per tahun.

Kini dari penelitian diketahui bahwa burung parkit itu memang mengintimidasi burung-burung lain yang lebih dulu hadir di taman. Sekelompok peneliti dari Imperial College London mendapatkan bukti bahwa parkit mencegah burung penyanyi lain untuk makan.

“Mengurangi populasi parkit kemungkinan akan membawa manfaat bagi para burung penyanyi,” kata Hannah Peck, salah satu peneliti seperti dikutip dari BBC, 1 Juni 2011. “Namun, dalam jangka panjang ada kemungkinan pula bahwa burung lain akan dapat beradaptasi terhadap parkit,” ucapnya.

Pada penelitian, Peck dan timnya mengamati perilaku makan para burung liar di 47 taman yang ada di sekitar Inggris. Mereka menempatkan parkit yang dikandangkan dan menempatkan wadah makanan di sebelahnya lalu merekam aktivitas makan burung-burung yang singgah.

Peneliti membandingkannya dengan saat parkit dikeluarkan dan membiarkan kandang itu kosong di sebelah wadah makanan.

“Dari pemantauan, terlihat burung-burung yang umumnya singgah untuk makan di sana menjadi enggan saat ada parkit di dekat wadah makanan kandang,” kata Peck.

Namun demikian, Peck menyebutkan, burung-burung yang terganggu merupakan burung berukuran kecil. “Sayangnya kami belum mendapatkan sampel dalam jumlah cukup besar untuk mengetahui spesies burung apa saja yang terganggu untuk dapat menyimpulkan data ini,” ucapnya.

Namun demikian, Peck menyebutkan, penelitian ini merupakan bukti-bukti awal bahwa kehadiran parkit menimbulkan dampak negatif bagi burung-burung setempat. Temuan ini sendiri akan dipresentasikan dalam ajang British Ecological Society Meeting on Invasive Species, Juni ini.

Artikel ini diolah dari Google
Share:

Minggu, 21 Agustus 2011

Manfaat Kelelawar bagi Manusia


Dari tampilan fisiknya, kelelawar memang bukan hewan yang menarik. Bahkan di antara jenis kelelawar ada yang memiliki tampang buruk dan menakutkan.

Namun, peneliti kelelawar dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan bahwa kegunaan yang diberikan kelelawar kepada manusia lebih banyak ketimbang kerugian yang diakibatkannya.

"Manfaatnya lebih banyak daripada mudaratnya," ujar Profesor Dr Riset Ibnu Maryanto dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, di sela-sela acara Konferensi Internasional Se-Asia Tenggara tentang Kelelawar, di Bogor, Senin 6 Juni 2011.

Beberapa manfaat yang diberikan kelelawar misalnya, ia bisa menjadi predator alami hama padi, misalnya hama wereng, yang hingga kini masih menjadi momok para petani. Oleh karenanya, kata Ibnu, biasanya sawah yang berada di dekat daerah kapur, hasil panennya lebih bagus daripada sawah yang tidak berada di daerah kapur.

Sebab, daerah kapur biasanya disenangi kelelawar karena gua-gua batu kapur memiliki kelembaban yang diperlukan oleh kelelawar. Untuk sawah yang letaknya tidak berada di dekat batu kapur pun, kata Ibnu, bisa mengundang koloni kelelawar dengan cara membuatkan rumah bagi kelelawar.

Cukup dibuatkan rumah kelalawar seperti kandang burung berukuran 40 cm x 20 cm, yang di bagian bawahnya disediakan air agar lembab. Selain itu, kelelawar jenis Megaderma spasma juga bisa digunakan sebagai pembasmi hama tikus.

Beberapa jenis kelelawar juga berfungsi sebagai penyerbuk sekaligus penyebar bibit pohon, sehingga punahnya jenis kelelawar itu akan berakibat pada punahnya jenis pohon tertentu. Beberapa pohon yang buahnya tergantung dengan aktivitas kelelawar antara lain adalah pohon rambutan, mangga, duku, pisang, dan durian.

Menurut Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Dr Lukman Hakim, kehadiran kelelawar bahkan bisa mengurangi 50 persen kebutuhan pestisida untuk perkebunan buah-buahan.

Tak hanya itu, sebagian besar kelelawar juga berguna sebagai pengontrol biologi penyakit malaria dan arthropod penyebar penyakit ternak. "Koloni kelelawar mampu mengkonsumsi begitu banyak serangga setiap petang. Seekor kelelawar kecil saja, dalam sejam bisa memangsa lebih dari 600 serangga.

Lebih jauh, Kepala Pusat Penelitian Biologi LIPI Siti Nuramaliati Prijono, mengatakan bahwa di Kebun Raya Bogor saja, 52 jenis tumbuhan diserbuki oleh kelelawar. 186 tumbuhan tropis yang berguna sebagai tumbuhan obat, penghasil kayu, maupun sumber makanan, kehidupan dan penyebarannya juga bergantung pada kelelawar dari kelompok Megachiroptera.

Namun, harus diingat pula bahwa kelelawar juga menyebarkan beberapa penyakit seperti rabies, hendra, maupun nipah. Dan sekitar 40 persen manusia yang terjangkiti penyakit-penyakit tadi, meninggal.

Penyakit nipah misalnya, sejak pertama ditemukan di Malaysia telah membunuh 105 manusia. Selain kelelawar, binatang lain pembawa penyakit ini adalah babi, di mana ratusan babi sempat dimusnahkan untuk mengurangi penyebaran penyakit ini.

Ibnu mengatakan, Indonesia adalah negara yang memiliki jumlah spesies kelelawar terbesar di Asia. Kini, Indonesia memiliki sekitar 225 spesies kelelawar. Jumlah itu merupakan 11 persen dari seluruh spesies kelelawar di seluruh dunia.

Artikel ini diolah dari Google
Share:

Penakhluk Semut Argentina


Semut Argentina dikenal sangat tangguh diantara semut-semut lainnya di dunia. Jenis semut ini telah menyebar ke seluruh dunia, terutama melalui kapal-kapal pengirim gula dari Argentina.

Dimana mereka singgah, semut Argentina selalu menjadi raja dengan mengalahkan jenis semut asli setempat. Dalam setiap 'peperangan' dengan semut-semut asli di tempat barunya, semut Argentina selalu menjadi pemenangnya.

Bahkan, di California, semut Argentina dinyatakan sebagai hama karena ulahnya yang selalu merusak tanaman jeruk para petani.

Namun, kegarangan dan kehebatan semut-semut Argentina itu belakangan mendapat tandingan dari spesies semut lainnya. Dia adalah 'semut musim dingin' / 'winter ant'. Semut ini belakangan diketahui mampu menakhlukkan semut Argentina itu.

Semut musim dingin ini memiliki kemampuan beradaptasi lebih baik dengan cuaca yang sangat dingin dari pada serangga lainnya. Mereka membuat racun dalam kelenjar di perut untuk beradaptasi dengan lingkungan dinginnya. Kelenjar itu mengeluarkan obat ketika berada di bawah tekanan ekstrim.

Dari hasil penelitian, ternyata racun yang dikeluarkan oleh semut musim dingin ini mampu 'menjinakkan' semut Argentina. Satu tetes kecil racun semut musim dingin, mampu mengakhiri hidup semut Argentina. Dari percobaan laboratorium, pengujian racun memiliki tingkat membunuh 79 persen.

"Ini adalah kasus pertama kali terdokumentasi dengan baik. Dimana spesies asli yang berhasil melawan semut Argentina," kata Deborah M. Gordon, seorang profesor biologi di Stanford sebagaimana dilansir oleh upi.com, Rabu 8 Juni 2011.

Mahasiswa Gordon inilah yang pertama kali melihat semut-semut musim dingin ini mengeluarkan racunnya. "Pada awalnya, saya tidak percaya," kata dia.

"Ini adalah sekelompok semut yang tidak memiliki penyengat dan Anda tidak melihat mereka bertindak agresif, namun para siswa mampu menunjukkan dengan sangat jelas bahwa semut ini tidak hanya menggunakan racun, tapi kapan mereka menggunakannya, bagaimana mereka menggunakannya dan apa dampaknya."
Share:

Dinosaurus sejenis burung Terkecil di dunia (Ashdown)


Sebuah fosil binatang yang menyerupai burung ditemukan di wilayah bagian selatan Inggris. Fosil itu diduga tulang dinosaurus yang menyerupai burung.

Seperti dikutip dari livescience.com, temuan ini dilaporkan oleh Paleozoologis dari Universitas Portsmouth, Darren Naish pada Agustus 2010 dan dimuat dalam jurnal Cretaceous Research.

Dinosaurus ini diberi nama Ashdown, sesuai dengan tempat penemuan fosil. Dinosaurus ini diduga hidup lebih dari 100 juta tahun yang lalu dan memiliki tinggi tak lebih dari 40 cm. Ashdown, kemungkinan merupakan jenis dinosaurus terkecil yang pernah hidup di muka bumi.

Fosil yang ditemukan itu berupa tulang leher kecil dengan panjang sekitar 7,1 milimeter. Tulang itu diduga milik dinosaurus Ashdowndewasa yang hidup di masa Cretaceous, sekitar 145 juta hungga 100 juta tahun yang lalu. Tulang milik maniraptoran, kelompok dinosaurustheropod ini, diyakini sebagai cikal bakal burung saat ini.

Mencari ukuran besar dinosaurus yang sebenarnya dengan hanya meneliti satu tulang memang sangat sulit. Namun, menurut Naish, para peneliti menggunakan dua metode untuk mencari tahu seberapa besar Ashdown. Metode pertama dengan membuat model leher dinosaurus secara digital. Kemudian mencocokkan leher digital itu dengan bayanganmaniraptoran pada umumnya. Namun, cara ini cenderung lebih banyak menggunakan unsur seni dari pada ilmiahnya.

Sedangkan metode kedua, lewat pendekatan yang lebih matematis dengan menggunakan rasio leher ke tubuh dinosaurus lainnya untuk menghitung panjang maniraptoran baru ini. Berdasarkan laporan yang dibuat Naish, kedua metode mendapatkan hasil, maniptoranbaru kira-kira memiliki panjang antara 30 hingga 50 centimeter.

Jika dinosaurus Ashdown yang ditemukan ini memecahkan catatan rekor terkecil, dia akan mengalahkan dinosaurus terkecil yang pernah hidup di daerah Amerika Utara, Anchiornis. Dinosaurus ini juga menyerupai burung dan hidup di wilayah yang sekarang menjadi daerah Cina pada 160 juta hingga 155 juta tahun yang lalu. Jika berdiri, tingginya mencapai 50 cm dengan berat badan sekitar 2 kg.
Share:

Penyakit Amfibi Mematikan Ditemukan di Panama


Dari pantauan para peneliti National Zoo di Washington, Amerika Serikat, diketahui bahwa sebuah penyakit amfibi yang menyebar sangat cepat telah mencapai kawasan yang sebelumnya bebas penyakit di Amerika Tengah.

Temuan chytridiomycosis di kawasan Darien, Panama itu merupakan masalah besar bagi Panama Amphibian Rescue and Conservation Project, sebuah konsorsium terdiri dari 9 institusi Amerika Serikat dan Panama yang berupaya untuk menyelamatkan 20 spesies kodok yang terancam punah.

Chytridiomycosis sendiri disebut-sebut sebagai penyebab anjlok dan punahnya populasi sejumlah spesies amfibi di seluruh dunia.

“Kami ingin menyelamatkan spesies amfibi yang ada di Darien, namun saat ini tidak ada waktu lagi untuk melakukannya,” kata Brian Gratwicke, biolog dari Smithsonian Conservation Biology Institute dan koordinator untuk proyek di Panama. “Proyek kami ini hanyalah satu dari sedikit upaya aktif untuk menghadapi kemungkinan punahnya spesies-spesies ini,” ucapnya.

Di tahun 2007, Doug Woodhams, peneliti dari Smithsonian Tropical Research Institute telah memeriksa kesehatan 49 ekor kodok di perbatasan Darien dan tidak ada satupun yang terdeteksi positif mengidap penyakit itu. Namun pada Januari 2010, diketahui terdapat 2 persen dari 93 ekor kodok yang diperiksa, mengidap chytridiomycosis.

“Menemukan chytridiomycosis pada kodok yang tinggal di perbatasan Darien terjadi jauh lebih cepat dibanding perkiraan,” kata Woodhams. “Penyebaran yang sangat cepat dan terus-menerus dari jamur penyebab chytridiomycosis sangatlah mengkhawatirkan,” ucapnya.

Artikel ini diolah dari Google
Share:

Ditemukan 7 Jenis Tikus Baru


Tujuh jenis baru tikus hutan ditemukan di Luzon, Filipina. Penemuan ini menambah jumlah jenis mamalia asli Luzon yang hingga kini telah mencapai 49 jenis.

Observasi terhadap ketujuh jenis baru tikus ini telah dilakukan, baik secara morfologi maupun genetiknya. Hasil penelitian, ketujuh tikus itu termasuk dalam subgenus Megapomys yang masuk dalam genus Apomys.

Tikus-tikus yang ditemukan ini relatif lebih lebar. Beratnya sekitar 65 hingga 110 gram. Panjang ekornya rata-rata, sementara kepala dan badannya lebih pendek dari mamalia serupa.

Dua diantara tikus baru yang ditemukan terdapat di Gunung Tapulo di Pegunungan Zambales, dua lagi terdapat di gunung aktif Filipina, Gunung Banahaw, dua jenis lagi di Pegunungan Mingan di Provinsi Aurora dan lainnya terdapat di Pegunungan Sierra Madre di utara Luzon.

"Ini tikus-tikus mengagumkan yang tinggal di hutan yang berada di ketinggian. Meskipun mereka sering dalam jumlah banyak, mereka selalu menghindari manusia dan jarang membahayakan," kata pimpinan proyek penelitian dari The Field Museum Chicago, Lawrence Heaney sebagaimana dikutip lamanlivescience.com.

"Mereka memilih makan cacing tanah dan biji-bijian yang tersebar di hutan," lanjut dia.

Pemerintah dan peneliti Filipina mengatakan tempat-tempat penemuan tikus itu harus dilindungi dari proses penebaangan liar, perluasan lahan pertanian, dan penambangan liar karena menjadi habitat hidup mereka.

"Meskipun ukurannya kecil, binatang ini merupakan bagian dari keanekaragaman biologi kami yang membentuk dasar ekosistem, yang sehat," kata direktur eksekutif konservasi Filipina-Internasional, Romeo-Trono.

Artikel ini diolah dari Google
Share:

Platipus Terancam Perubahan Iklim


Bulu tebal dan anti air yang sempat membuat platipus (Ornithorhynhus anatinus) menjadi target bagi para pemburu kini kembali menghadirkan ancaman bagi hewan unik tersebut. Australia, yang menjadi tempat tinggal platipus dalam waktu dekat akan menjadi terlalu panas hingga mereka tidak lagi bisa bertahan hidup di sana.

Seperti diketahui, bulu platipus sangat hangat dan rapat sehingga membuat hewan semi akuatik ini tidak kehilangan panas tubuh. Ini sangat penting mengingat platipus menghabiskan waktu hingga 10 jam per hari dalam air dan aliran sungai yang suhunya mencapai 0 derajat Celcius.

Sayangnya, kelebihan ini jusru membuat spesies itu terancam karena perubahan iklim telah memanaskan suhu di Australia. Dari penelitian terbaru yang dipublikasikan di Global Change Biology, diperkirakan di tahun 2070 mendatang, lebih dari 30 persen habitat platipus saat ini akan terlalu panas bagi mereka.

Dari pemodelan yang dibuat, peneliti memperkirakan, kawasan New South Wales, Queensland, dan Victoria, yang merupakan habitat platipus akan mengalami kenaikan suhu hingga 5 derajat Celcius dalam 60 tahun ke depan.

“Bulu yang sangat mengisolasi ini merupakan aset bagi hewan pada iklim dingin. Namun demikian, bulu menjadi beban saat kondisi menghangat,” kata Jenny Davis, dosen dan ekolog dari Monash University, Australia, seperti dikutip dari BBC News, 24 Juni 2011.

Untuk penelitian, Davis dan timnya mempelajari catatan distribusi platipus selama dua abad terakhir. Data kemudian dikombinasikan dengan statistik curah hujan dan temperatur. Dari analisis, terungkap bahwa hingga 1960, habitat platispu umumnya ditentukan oleh jumlah curah hujan.

Setelah 1960, hewan tersebut menghilang dari kawasan di mana temperaturnya secara umum telah meningkat. Menurut Davis, hasil penelitian ini mengindikasikan adanya kebutuhan untuk menjaga tidak hanya habitat hewan akuatik ini, tetapi juga temperatur arus air.

Hingga abad ke 20, platipus merupakan hewan buruan yang bulunya sangat diminati. Beruntung kini hewan itu telah dilindungi oleh undang-undang di Australia.

Platipus sendiri adalah salah satu dari lima spesies mamalia yang bertelur. Mereka juga merupakan satu-satunya anggota dari genus Ornithorhynchus yang masih hidup. Platipus juga merupakan satu-satunya mamalia yang berbisa di seluruh dunia.

Artikel ini diolah dari Google
Share: