Senin, 03 Oktober 2011

30 Juta Hektar Lahan Indonesia Terdegradasi


Dirjen Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan Hari Santoso mengatakan, degradasi lahan di Indonesia menunjukkan angka yang memprihatinkan. Kendati begitu, ia menilai itu bukan hal aneh.

"Sebanyak 30 juta hektar lahan kita terdegradasi. Kita punya masalah besar terhadap hal itu, tetapi degradasi lahan di Indonesia bukan lagi hal aneh," kata Hari, di sela UNCCD Asia-Fasific Regional Consultation Meeting Preparatory to COP-10, Bali, 14 September 2011.

Hari mengatakan, ada tiga daerah di Indonesia yang rawan dengan degradasi hutan dan lahan. "Tiga daerah yang rawan itu adalah Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Tengah," paparnya.

Oleh karena itu, kata Hari, pemerintah pusat dan daerah terus berupaya melakukan reboisasi hutan di sana. "Kita terus berupaya melakukan kegiatan reboisasi hutan termasuk menanami tanaman pada lahan tersebut," ucapnya.

Di daerah NTT, dengan kondisi geografisnya yang kering terutama pada kawasan rawan degradasi hutan, kalau dibiarkan begitu saja, maka akan menjadi padang pasir. "Jika sampai terjadi, daerah tersebut akan sangat sulit untuk menanami tanaman pohon. Oleh karena itu secara berkesinambungan perlu dilakukan reboisasi hutan," ujar Hari.

Langkah yang telah dilakukan pemerintah, kata Hari, adalah melakukan pembibitan tanaman melalui perberdayaan masyarakat. “Jadi, masyarakat setempat diajak untuk melakukan pembibitan tanaman yang cocok dengan iklim dan daerah itu,” ucapnya.

"Di samping melalui pembibitan tanaman lewat pemberdayaan masyarakat, pemerintah juga melakukan pembibitan secara permanen,” kata Hari. “Memang kalau dari segi kualitas, jelas pembibitan permanen jauh lebih bagus," ucapnya.

Dalam penanggulangan terjadinya degradasi hutan dan lahan, Hari menyebutkan, pihaknya juga melakukan pencegahan, antara lain reklamasi lahan dan menjaga daerah aliran sungai.

"Langkah ini ke depannya harus dilakukan secara terpadu, artinya semua instansi seperti Kementerian Kehutanan, PU dan Kementerian Lingkungan serta pemerintah daerah bersama-sama menyatukan programnya," kata Hari.

Menyinggung kegiatan yang dihadiri dari perwakilan negara Asia-Pasifik tersebut, Hari mengatakan, pertemuan merupakan tindak lanjut dari pertemuan di Rio de Janeiro tahun 1992 yang dikenal dengan pertemuan bumi (Rio Earth Summit).

"Oleh karena itu, pertemuan ini dilakukan secara berlanjut untuk membahas dan menanggulangi ancaman degradasi hutan dan lahan di negara-negara peserta," ucapnya.

Artikel ini diolah dari Google
Share:

Ribuan 'Roda' Tampak dari Angkasa Arab


Fenomena geolif atau gambar bumi yang tampak dari angkasa ternyata bukan hanya milik Nazca Lines di Peru. Para peneliti menemukan fenomena serupa di jazirah Arab, membentang dari Arab Saudi sampai Suriah.

Berkat teknologi pemetaan satelit dan program fotografi aerial di Yordania, para peneliti menemukan ribuan gambar berbentuk roda. Roda-roda ini memiliki desain yang berbeda, namun memiliki satu kesamaan, yakni lingkaran yang memusat ke tengah. Ukurannya bervariasi, dari lebar 25 meter sampai 70 meter. Para peneliti yakin gambar ini setidaknya telah berusia 2.000 tahun.

"Di Yordania sendiri, kami menemukan struktur seperti batu yang lebih banyak daripada Nazca Lines, jauh lebih luas terbentang dan jauh lebih tua," kata Profesor Sejarah Klasik dan Kuno Universitas Australia Barat, David Kennedy, sebagaimana dilansir Live Science.

Riset Kennedy ini akan dipublikasikan di Jurnal Ilmu Arkeologi berikutnya. Studi ini mengungkapkan sejumlah keragaman desain 'roda' yang berfungsi mulai sebagai saluran air, penguburan sampai sekadar dinding misterius.

Sejauh ini, belum satu pun dari roda ini diekskavasi, yang membuat cara mengetahui tanggal pembuatan dan tujuan pembuatan sulit diketahui. Para arkeolog yang mempelajarinya sebelum ada aplikasi Google Earth berspekulasi bahwa ini bisa jadi reruntuhan rumah atau kuburan. Namun Kennedy menyatakan, tak satu pun penjelasan yang cocok.

Beberapa roda ditemukan terisolasi sendirian, namun ada yang terkelompok bersama. Di satu lokasi, dekat Oase Azraq, ratusan roda ditemukan bersama-sama.

Di Arab Saudi, tim Kennedy menemukan roda yang memiliki gaya agak berbeda: beberapa tak beraturan dan sama sekali bukan seperti roda. Ada juga roda yang memiliki tugu di tengahnya.

Amelia Sparavigna, Profesor Fisika dari Politeknik Turin, Italia, menyatakan kepada Live Science bahwa struktur di Arab ini jelas geolif. Fungsi geolif di Arab ini, kata perempuan peneliti itu, mungkin sama dengan yang ditemukan di gurun Nazca yang umumnya sebagai tempat sembahyang atau ritual terkait astronomi.

Namun demikian, Kennedy menyatakan roda-roda ini masih merupakan misteri.

Artikel ini diolah dari Google
Share:

Gletser Viedma Tampak dari Luar Angkasa


Pemandangan indah yang menggambarkan lanskap bumi sering kali terpotret dari luar angkasa. Begitu pula untuk melihat keindahan gletser pegunungan, salah satunya adalah gletser di Gunung Viedma, Argentina.

Seperti dikutip harian Daily Mail, foto gletser Viedma ini diambil oleh kru yang ada di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Foto ini diambil dari ketingguan sekitar 200 mil atau 320 km di atas permukaan bumi.

Gletser ini merupakan bagian dari lapangan es Patagonia, kumpulan es terbesar di Hemisphere bagian selatan, dan meliputi 35 ribu kilometer persegi.

Gletser ini terus bergerak sambil mengumpulkan batu dan tanah, yang menghasilkan warna abu-abu. Selama ini, gletser juga dikenal memiliki banyak celah dalam, yang menurut para ahli terbentuk karena cepatnya pergerakan es di tengah dan lebih lambat di bagian samping.

Dalam gambar, celah dalam ini berbentuk serupa garis-garis yang sejajar dengan arah gerak gletser. Ketika gletser mencapai danau, aliran es itu pun memecah, menghasilkan bongkahan es yang mengapung di permukaan air.

Berikut Gambarnya :


Artikel ini diolah dari Google
Share:

Ditemukan, 'Anomali' Lain Segitiga Bermuda


Segitiga Bermuda -- wilayah imajiner yang menghubungkan Puerto Rico, perairan Florida, dan Bermuda -- tenar karena imej mistisnya. Hal itu diperkuat fakta ratusan kapal dan pesawat menghilang di area itu. Meski akhirnya ditemukan, sejumlah kapal dalam keadaan kosong, tanpa kru dan penumpang yang menghilang misterius.

Seorang penulis, Vincent Gaddis in 1964 berpendapat, ada anomali yang menjelaskan fenomena aneh tersebut. Namun, Segitiga Bermuda memperoleh ketenarannya pada 1974, saat Charles Berlitz menerbitkan buku yang mempopulerkan Segitiga Bermuda sebagai 'Sea Devil' atau 'Laut Setan'.

Pasca itu, berbagai kelompok ilmuwan meneliti Segitiga Bermuda untuk menemukan anomali yang dianggap bertanggung jawab atas sekian kecelakaan aneh di sana. Namun tak ada satupun yang berhasil ditemukan. US Coast Guard bahkan menyajikan laporan yang menyebut, kejadian kapal lebih sering terjadi di Segitiga Bermuda dari wilayah lain, dikarenakan badai.

Pada tahun 1990-an, ketertarikan pada Segitiga Bermuda memudar. Namun, baru-baru ini, ilmuwan dari Amerika Serikat menemukan 'anomali' lain di Segitiga Bermuda. Ini tak ada kaitannya dengan menghilangnya kapal atau pesawat.

Para ilmuwan Bermuda Institute of Oceanology yang dipimpin Professor Craig Carlson menemukan, permukaan air di kawasan itu dipenuhi berbagai macam virus. Kabar baiknya, virus itu tak mengancam manusia. Mereka hanya tertarik pada bakteri laut.

Temuan ini adalah hasil penelitian oseanografi di bagian barat laut Laut Sargasso -- yang berada dekat Segitiga Bermuda dan Pulau Bermuda -- selama sepuluh tahun.

Ilmuwan mengungkap, dinamika organisme mikroskopis itu terkait dengan musim. Contohnya, di musim panas, virus berlipat ganda di di lapisan air pada kedalaman 60 sampai 100 meter. Jumlah mereka bisa mencapai sepuluh juta partikel per satu tetes air. Di musim dingin, mereka tidak terdeteksi di permukaan, organisme itu memilih tinggal di lokasi yang lebih dalam.

Yang juga menarik, analisis para peneliti mengungkapkan, 90 persen dari DNA virus belum dikenal dalam ilmu pengetahuan. Mereka termasuk bakteriofag -- virus yang memangsa bakteri. Ilmuwan juga menemukan molekul organik bakteri mati di sekitar virus tersebut. Itu menjadikan permukaan air di kawasan tersebut kaya nutrisi. Ini berarti bahwa bakteriofag membentuk ekosistem mikroskopis di mana mereka tinggal.

Virus tersebut menciptakan 'kafetaria' di kawasan tersebut. Tak hanya menarik organisme plakton, tapi juga membuat Ikan paus dan lumba-lumba datang dan mencari makan di sana.

Para ilmuwan mengaku takjub dengan temuan yang mereka hasilkan. Sebab, sebelumnya mereka tak mengetahui peran virus ini dalam formasi ekosistem kelautan. Menurut ahli kelautan, virus laut kurang dipahami karena mereka sulit untuk ditangkap. Tapi sekarang jelas, mereka tak terhitung jumlahnya di semua lautan dan samudra.

"Jumlah mereka 95 persen dari total biomassa laut. Artinya, jumlah virus bahkan lebih besar dari kombinasi krill (sejenis udang kecil), ikan dan hewan yang lebih besar seperti ikan paus. Mengingat laju multiplikasi virus dan jumlah mereka, menjadi jelas betapa pentingnya peran mereka dalam siklus hara di planet ini," kata salah satu penulis, Dr Rachel Persons.

Meski penelitian dilakukan di Segitiga Bermuda -- lokasi unik di lautan -- para ahli yakin, dalam kasus ini tidak ada kelainan khusus untuk segitiga Bermuda. Virus juga ditemukan di sejumlah wilayah di lautan.

Artikel ini diolah dari Google
Share:

Hydro Power akan dibangun di Makassar, Indonesia


Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan, menteri dari Norwegia datang ke Indonesia karena tertarik untuk mengembangkan hydro power, di Makassar.

"Norwegia sangat tertarik untuk mengembangkan hydro power di Makassar. Negeri itu sangat terkenal dengan hydro power, dan sebagian kebutuhan listrik di sana dipasok dari hydro power,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa di Jakarta, 27 September 2011.

Hatta menyebutkan, pihaknya sangat terbuka untuk mengembangkan itu. Terkait alasan mengapa proyek hydro power akan digelar di Makassar, Hatta menyatakan, karena kondisi alam di kawasan itu. "Makassar kan banyak airnya," ucapnya.

Meski demikian, Hatta belum menyebutkan nilai investasi yang akan ditanamkan dalam proyek hydro power. Menurutnya, saat ini diskusi belum sampai ke investasi, yang saat ini jalankan baru dalam hal pendataan berapa potensi hydro di Makassar.

"Belum sampai disitu, Makassar kan sedang berjalan, tapi kita betul-betul ingin mendata berapa potensi-potensi hydro yang bisa kita bangun. Menurut saya ribuan mega watt," kata Hatta.

Sementara itu, Deputi Bidang Kerjasama Internasional Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Rizal Affandi mengatakan, jika hydro power sudah berjalan, Indonesia dapat mengurangi gas emisi seperti Brazil yang mampu menurunkan emisi sebesar 26 persen.

"Ternyata tidak ada dampak negatif ke perkembangan ekonomi, yang dikhawatirkan ada trade off antara menurunkan gas emisi dan pertumbuhan ekonomi jadi melambat,” kata Rizal.

Rizal menyebutkan, Indonesia akan tetap tumbuh dan tidak terganggu oleh penurunan yang sebesar 26 persen dari pengurangan emisi tersebut. “Pak Menko menyampaikan 4 track; pro job, pro poor, pro green, pro environment. Artinya semua sejalan," kata Rizal.

Menurut Rizal, hydro power juga lebih efisien dan murah dibandingkan geothermal dan bukan merupakan skala menengah tapi jangka panjang. “Kalau di Makassar berhasil, ini bisa jadi model untuk daerah lain," ucapnya.

Bagi Rizal, tidak ada kriteria khusus untuk daerah-daerah yang ingin menggelar proyek hydro power. "Tidak ada kriteria khusus. Prinsipnya ada sumber-sumber air, disitu pasti bisa. Investasi awal besar, maintenance fee rendah. Ini kebalikan dari geothermal," ujar Rizal.

Artikel ini diolah dari Google
Share:

Minggu, 02 Oktober 2011

Format Factory 2.70


Format Factory merupakan software yang bisa dibilang adalah software untuk format segala jenis file.
Format Factory support berbagai macam format file multimedia, seperti WMV, AVI, MPG, MP3, WMA, AAC, JPG, PNG, GIF, etc. Meskipun Format Factory ini tergolong freeware namun software ini tak kalah bagusnya dengan software berbayar lainnya, apalagi software ini juga telgolong ringan.

Berikut Overview dari CNet :
FormatFactory is a multifunctional media converter. Provides functions below: all to MP4/3GP/MPG/AVI/WMV/FLV/SWF; all to MP3//WMA/MMF/AMR/OGG/M4A/WAV; all to JPG/BMP/PNG/TIF/ICO; MP4 files support; Pod/iPhone/PSP/BlackBerry format; Source files support RMVB. FormatFactory's features: support converting all popular video,audio,picture formats to others; repair damaged video and audio file; reducing Multimedia file size; support iphone, ipod multimedia file formats; picture converting supports Zoom, Rotate/Flip, tags; supports 65 languages.

Download :
    Download | Format Factory 2.70.rar   |   instaler

Language :

Format Factory's Feature :
1. support converting all popular video,audio,picture formats to others.
2. Repair damaged video and audio file.
3. Reducing Multimedia file size.
4. Support iphone,ipod multimedia file formats.
5. Picture converting supports Zoom,Rotate/Flip,tags.
6. DVD Ripper.
7. Supports 56 languages




Artikel ini diolah dari Google
Share:

Sabtu, 01 Oktober 2011

Menguak Misteri didasar Laut Mati


Tiga juta tahun lalu ( < 2011 ), sebuah retakan di Lembah Sungai Yordan (Jordan Rift Valley) membentuk sebuah danau luas berisi air. Iklim kering dan evaporasi yang tinggi meningkatkan konsentrasi mineral dalam air. Menjadi sangat asin. Perairan luas itu kini lebih dikenal sebagai Laut Mati.

Kadar garam yang tinggi membuat orang bisa mengapung dengan mudah. Tak bakal tenggelam. Salinitas yang, lebih dari 32 persen membuat mahluk hidup nyaris tak mungkin hidup di dalamnya. Namun pendapat itu terbukti salah. Laut mati sejatinya tak benar-benar mati.

Untuk kali pertamanya dalam sejarah, para ilmuwan mengirimkan penyelam untuk mengeksplorasi Laut Mati. Mereka mengungkap temuan tak terduga, mata air tawar yang berasal dari kawah di bawah laut, juga hewan mikroba di dalamnya.

Dua temuan itu adalah yang pertama terkuak di Laut Mati -- perairan paling asin di dunia sekaligus permukaan air terendah di muka Bumi.

Laut Mati terletak di antara Yordania, Israel, dan Tepi Barat Palestina. Di satu sisi, keunikannya yang bisa membuat orang mengapung dengan menjadi daya tarik wisata. Sebaliknya, bagi penyelam, itu adalah tantangan besar.

Para peneliti dari Ben-Gurion University, Israel (BGU) berhasil menyelami dasar Laut Mati, untuk mengkonfirmasi kecurigaan mereka bahwa air tawar naik dari celah yang berada jauh di dasar laut.

Air tawar menyembur dari dinding curam 15 x 20 meter. Para ilmuwan menemukan air membentuk mata air kompleks yang mengalir di beberapa tempat di dasar Laut Mati -- yang dalamnya 30 meter dan panjangnya sampai ratusan meter.

Para penyelam juga menemukan hamparan mikroba hidup dekat lubang-lubang yang berada di dasar laut. Penemuan mahluk hidup di lingkungan yang sebelumnya diyakini tak bakal bisa menopang kehidupan adalah sesuatu yang mengejutkan.

"Meski tak ada ikan yang dijumpai, karpet mikroorganisme yang menutupi wilayah dasar Laut Mati diyakini terdiri dari banyak spesies," kata Danny Ionescu dari Max Planck Institute for Marine Microbiology Jerman, yang juga ikut dalam ekspedisi ini, seperti dimuat situs sains, Our Amazing Planet, 27 September 2011.

Laut Mati adalah entitas laut yang paling cepat menyusut. Airnya menguap 1 meter per tahun, penyebab utamanya karena manusia menguras sumber utamanya -- Sungai Jordan, digunakan sebagai air minum.

Profesor BGU, Jonathan Laronne dan peneliti, Yaniv Munwes, bersama-sama para penyelam, merancang sistem pertama yang bisa mengukur mata air di dasar laut dan mempelajari struktur pancaran airnya. "Dengan mengembangkan sistem pengukuran untuk mata air ini, kita akan dapat menentukan lebih akurat berapa banyak air yang sebenarnya memasuki Laut Mati," kata Laronne dalam sebuah pernyataan.

Artikel ini diolah dari Google
Share: